Strategi Nekat Punya Rumah Mewah Tanpa Utang

Strategi Nekat Punya Rumah Mewah Tanpa Utang

by Hasan Basri -
Number of replies: 0

Pernahkah Anda membayangkan bisa tidur nyenyak di rumah sendiri tanpa memikirkan jatuh tempo cicilan di tanggal satu? Saya pernah berada di posisi bimbang antara mengambil KPR atau tetap tinggal di kontrakan. Akhirnya, saya memilih "jalan tengah" yang menantang: membangun hunian secara mandiri, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya menjadi bangunan utuh yang lunas sepenuhnya.

Strategi utama saya adalah disiplin mengumpulkan material sebelum pondasi digali. Alih-alih membiarkan uang mengendap di rekening yang rentan terpakai, saya langsung membelanjakannya untuk bahan bangunan yang tidak bisa busuk. Besi beton, pasir, dan batu bata saya kumpulkan setiap kali ada dana sisa. Ternyata, melihat tumpukan material di lahan sendiri memberikan kepuasan batin yang jauh lebih besar daripada sekadar melihat angka di buku tabungan yang nilainya bisa tergerus harga pasar.

Dalam perjalanannya, saya sering mencari referensi dari berbagai cerita membangun rumah milik orang-orang yang memiliki semangat serupa. Dari sana, saya belajar untuk tidak gengsi menggunakan material berkualitas meski kondisinya bekas. Saya rajin mendatangi tempat pembongkaran gedung tua untuk mencari kusen kayu jati atau daun pintu yang masih kokoh. Material-material "lawas" ini seringkali memiliki kualitas kayu yang jauh lebih baik daripada kayu baru di toko, namun dengan harga yang sangat ramah di kantong.

Konsep rumah tumbuh juga menjadi penyelamat finansial saya. Saya membuang jauh-jauh ego untuk memiliki rumah yang langsung luas dan sempurna. Saya mulai dengan membangun area inti yang fungsional terlebih dahulu agar bisa segera ditempati. Begitu saya pindah ke rumah sendiri, uang yang biasanya habis untuk membayar sewa kontrakan setiap bulan bisa dialihkan secara utuh untuk membangun ruangan tambahan atau mempercantik tampilan rumah.

Selain urusan bahan, manajemen tukang adalah kunci agar anggaran tidak bocor. Saya lebih memilih mempekerjakan tukang lokal dengan sistem upah harian atau borongan per tahap pengerjaan. Dengan bertindak sebagai pengawas sendiri, saya bisa memastikan kualitas pengerjaan tetap terjaga dan penggunaan material sangat efisien. Kehadiran saya di lapangan setiap hari membantu meminimalisir kesalahan teknis yang seringkali memicu biaya renovasi tambahan yang tidak perlu.

Membangun rumah dengan cara ini memang menuntut napas panjang dan kesabaran yang luar biasa. Ada kalanya pembangunan harus berhenti selama beberapa bulan karena dana sedang difokuskan untuk kebutuhan lain, dan itu tidak masalah. Tidak ada paksaan, tidak ada bunga bank, dan tidak ada rasa takut akan penyitaan. Kini, saat rumah itu sudah berdiri kokoh, saya merasakan kemerdekaan finansial yang sesungguhnya karena setiap sudut rumah ini lahir dari jerih payah yang sudah lunas terbayar.